[Episode 8] Bertemu Orang yang Tepat di Waktu yang Salah
Ibu tua berkerudung itu menyerahkan secangkir teh manis hangatnya ke dalam genggamanku. Ia tersenyum. Aku berucap terima kasih. Kureguk perlahan, hangat. Kain-kain panjang nan cantik masih terhampar di sana-sini. Tanganku mengusap lembut pada sehelai mega mendung dan sesekali menangkap bau malam, batik.
Ibu tua berkerudung itu muncul lagi dihadapanku. Tapi kini ia pamit hendak pulang. Agak-agak merunduk sambil lalu di hadapanku ia pun tersenyum dan menepuk-nepuk halus tanganku sambil berkata, “cantik”
“Cantikku memang untukmu”
Hari ini, duapuluhtiga Mei.
Kita berjumpa lagi untuk yang ke delapan kali. Dengan kamu, tentunya, si lelaki penabur hujanku.
Terduduk lagi berdua. Masih sama.
Kali ini menu kita shabu-shabu. Asik, nikmat berdua.
Kamu air putih
Perempuan mengudap sayur
Kamu mengunyah ikan
Perempuan mereguk es teh tawarnya
Telepon berdering
Ada kabar baik, tentang kelahiran
Aiih, bahagianya.
Perempuan pembawa angin memakai kesempatan, mencuri-curi pandang
pada sebaris alis yang menawan
…….menyenangkan
Ugh, perempuan juga sempat mengumpat
Kesal, tentang BBM, BLT, ABC, XYZ, sambil makan. “Itulah negaramu,” perempuan menyalahkan lelakinya, yang kemudian dibalas dengan senyuman manisnya.
Berlalu dari mangkuk panas shabu. Kita terduduk berdua pada deretan bangku biru. Kamu pada sisi kiri. Menatap tak henti. Mata lelaki penabur hujan dan perempuan pembawa angin beradu, rindu.
Tatapan rindu, masih juga dengan senyuman malu-malu.
Rindu yang tak pernah lagi terucapkan. Seusai pertemuan ke tujuh kita yang dahulu. Yang tidak juga dikisahkan. Oleh perempuannya.
Kita berbicara, perlahan. Berdua saja.
Tentang keinginan,
kerinduan,
angan,
sentuhan
dan hasrat.
“Cantikku memang untukmu”
Aku tersenyum dan membalasnya dengan berganti mengusap jemari ibu tua berkerudung itu hingga ia berlalu dari pandanganku.
Aku ikhlas,
“Cantikku memang untukmu”
Ibu tua berkerudung itu muncul lagi dihadapanku. Tapi kini ia pamit hendak pulang. Agak-agak merunduk sambil lalu di hadapanku ia pun tersenyum dan menepuk-nepuk halus tanganku sambil berkata, “cantik”
“Cantikku memang untukmu”
Hari ini, duapuluhtiga Mei.
Kita berjumpa lagi untuk yang ke delapan kali. Dengan kamu, tentunya, si lelaki penabur hujanku.
Terduduk lagi berdua. Masih sama.
Kali ini menu kita shabu-shabu. Asik, nikmat berdua.
Kamu air putih
Perempuan mengudap sayur
Kamu mengunyah ikan
Perempuan mereguk es teh tawarnya
Telepon berdering
Ada kabar baik, tentang kelahiran
Aiih, bahagianya.
Perempuan pembawa angin memakai kesempatan, mencuri-curi pandang
pada sebaris alis yang menawan
…….menyenangkan
Ugh, perempuan juga sempat mengumpat
Kesal, tentang BBM, BLT, ABC, XYZ, sambil makan. “Itulah negaramu,” perempuan menyalahkan lelakinya, yang kemudian dibalas dengan senyuman manisnya.
Berlalu dari mangkuk panas shabu. Kita terduduk berdua pada deretan bangku biru. Kamu pada sisi kiri. Menatap tak henti. Mata lelaki penabur hujan dan perempuan pembawa angin beradu, rindu.
Tatapan rindu, masih juga dengan senyuman malu-malu.
Rindu yang tak pernah lagi terucapkan. Seusai pertemuan ke tujuh kita yang dahulu. Yang tidak juga dikisahkan. Oleh perempuannya.
Kita berbicara, perlahan. Berdua saja.
Tentang keinginan,
kerinduan,
angan,
sentuhan
dan hasrat.
“Cantikku memang untukmu”
Aku tersenyum dan membalasnya dengan berganti mengusap jemari ibu tua berkerudung itu hingga ia berlalu dari pandanganku.
Aku ikhlas,
“Cantikku memang untukmu”
...........meski di waktu yang salah sekalipun.





